TEORI PENGEMBANGAN KURIKULUM
TEORI
PENGEMBANGAN KURIKULUM
Teori merupakan suatu set atau system pernyataan (a
set of statement) yang menjelaskan serangkaian hal. Teori merupakan suatu
perangkat pernyataan yang bertalian satu sama lain, yang di susun sedemikian
rupa sehingga memberikan makna yang fungsional terhadap serangkaian kejadian.
Dalam Kamus Filsafat yang ditulis oleh Tim Penulis
Rosda dijelaskan bahwa theory adalah
:
1. Pemahaman
akan berbagai hal dalam hubungan universal dan idealnya satu sama lain, lawan
dari praktis dan/atau eksistensi factual.
2. Dalam
prinsip abstrak atau umum dalam sebuah pengetahuan yang menampilkan pandangan
yang jelas dan sistemik tentang sebagian materi pokoknya, seperti dalam teori
seni atau dalam teori atom.
3. Sebuah
prinsip atau model umum, abstrak dan ideal yang digunakan untuk menjelaskan
fenomena, seperti dalam teori seleksi alam.
Dari beberapa definisi tentang teori yang telah
dikemukakan di atas, dapat disimpulkan teori memiliki beberapa karakteristik,
yaitu :
a. Adanya
serangkaian pernyataan yang bersifat universal.
b. Dalam
pernyataan tersebut terdapat konstruk (konsep).
c. Merupakan
lawan dari praktik.
d. Menampilkan pandangan yang jelas dan
sistermik tentang suatu fenomena.
e. Berdasarkan
fakta-fakta empiris.
f. Tujuannya
adalah untuk mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, dan memadukan fenomena.
Teori merupakan alat suatu disiplin ilmu yang
berfungsi untuk menentukan arah dari ilmu itu, menentukan data apa yang harus
dikumpulkan, memberikan data konseptual tentang cara mengelompokan dan
mengumpulkan darta, merangkum fakta-fakta menjadi : generalisasi empiris,
system generalisasi, menjelakan dan memprediksi fakta-fakta, dan menunjukan
kekurangan pengetahuan kita tentang disiplin ilmu itu.
Teori kurikulum merupakan serangkaian konsepsi yang
berhubungan konsep-konsep pendidikan yang berusaha menjelaskan secara
sistematis, perspektif terhadap kurikulum. Teori kurikulum (curriculum theory
atau event theory) merupakan theory yang menguraikan pemilihan dan pemisahan
kejadian atau peristiwa kurikulum atau yang berhubungan dengan kurikulum dan
yang bukan.
Konsep-konsep teori kurikulum yaitu sebagai suatu
perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap kurikulum sekolah, makna
tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur kurikulum,
karena adanya petunjuk perkembangan, penggunaan dan evaluasi kurikulum. Bahan penyajian dari teori kurikulum
adalah hal-hal yang berkaitan dengan penetuan keputusan, penggunaan,
perencanaan, pengembangan, evaluasi kurikulum, dan lain-lain.
Teori kurikulum bukan hanya sebagai landasan dan
acuan, tetapi juga dapat menjelaskan dan memprediksi bagaimana praktik
kurikulum. Teori kurikulum mencari prinsip-prinsip atau pernyataantentang apa
yang seharusnya atau tidak seharusnya ada/terjadi dalam pendidikan.
Teori kurikulum selalu mengandung terhadap sikap dan
perbuatan yang akan dilakukan. Oleh karena itu, kurikulum selalu melibatkan
aspek-aspek epistemologis (pengetahuan), ontologis (eksistensi dan realitas),
dan aksiologis (nilai-nilai). Walaupun aspek-aspek tersebut susah dipisahkan
antara satu dengan yang lainnya, ahli teori kurikulum dapat menekankan pada
salah satu aspek tertantu yang dianggap urgen.
Perkembangan teori kurikulum
selanjutnya dibawakan oleh Hollis Caswell. Dalam peranannya sebagai ketua
divisi pengembang kurikulum di beberapa negara bagian di Amerika Serikat
(Tennessee, Alabama, Florida, Virginia), is mengembangkan konsep kurikulum yang
berpusat pada masyarakat atau pekerjaan (society centered) maka Caswell
mengembangkan kurikulum yang bersifat interaktif. Dalam pengembangan
kurikulumnya, Caswell menekankan pada partisipasi guru-guru, berpartisipasi
dalam menentukan kurikulum, menentukan struktur organisasi dari penyusunan
kurikulum, dalam merumuskan pengertian kurikulum, merumuskan tujuan, memilih
isi, menentukan kegiatan belajar, desain kurikulum, menilai hasil, dan
sebagainya.
Teori kurikulum dapat ditinjau dari dua fungsi pokok,
yaitu:
1.
Sebagai alat
dan kegiatan intelektual untuk memahami pengalaman belajar peserta didik dalam
proses pembelajaraan yang dibantu oleh disiplin ilmu social lainnya. Dalam
fungsi ini tidak digunakan data-data empiris. Teori kurikulum bukan menjadi
acuan dalam implementasi teori kurikulum (praktik pembelajaraan). Fungsi
pertama ini lebih banyak memfokuskan keunikan dan kebebasaan individu serta
kegiatan-kegiatan yang bersifat temporer. Implementasi kurikulum hanya sebagai
upaya dan tanggung jawab moral, bukan sebagai masalah teknis. Tujuan teori
kurikulum adalah mengembangkan, menilai, dan memilih konsep-konsep tentang
kurikulum sehingga dapat melahirkan gagasan baru tentang kurikulum.
2.
Sebagai
suatu strategi atau metode untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan berdasarkan
data-data empiris. Fungsi kedua ini lebih banyak menganalisis hubungan antara
teori dengan praktik.
Teori kurikulum harus dapat memberikan konstribusi
yang signifikan bagi para pengembang kurikulum untuk penyusunan konsep tentang
situasi pendidikan yang mereka hadapi, sehingga dapat membantu mereka untuk
menjawab persoalan dan tantangan yang ada. Teori kurikulum dapat dilihat dari
empat aspek penting, yaitu:
1)
Hubungan
antara kurikulum dengan berbagai faktor yang dapat meningkatkan efektivitas dan
efesiensi kurikulum.
2)
Hubungan
antara kurikulum dengan struktur kompetensi (pengetahuan, keterampilan, sikap,
dan nilai-nilai) yang harus dikuasai oleh peserta didik.
3)
Hubungan
antara kurikulum dengan komponen-komponen kurikulum itu sendiri seperti tujuan,
isi/materi, metode dan evaluasi.
4)
Hubungan
antara kurikulum dengan pembelajaran.
John D McNeil menegaskan teori kurikulum harus dapat
menegaskan dan memprediksi hubungan antara berbagai variabel kurikulum dengan
tujuan, proses belajar, dan perencanaan program. Implikasinya, teori kurikulum
harus dapat :
a. Menjadi
acuan dalam penelitian dan pengembangan kurikulum serta menjadi alat evaluasi
kurikulum
b. Mengidentifikasikan
dan menjelaskan berbagai variabel dan hubungannya dengan komponen-komponen
kurikulum yang dapat divalidasi secara empiris
c. Memberikan
prinsip dan hubungan-hubungan yang dapat diuji secara empiris untuk
mengembangkan kurikulum
d. Menjadi
kegiatan intelektual yang kreatif
Melalui suatu teori kurikulum tertentu diharapkan
kuriklum dapat lebih bermakna bagi peserta didik.
Dalam mengembangkan teori kurikulum sebagai disiplin
ilmu, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Menggunakan
bahasa yang tepat dan ilmiah agar lebih bersifat objektif dan bukan persuasif
b. Prinsip-prinsip
dan metode baru dan yang lebih efektif
c. Peran teori
dari disiplin ilmu lain dalam kurikulum
d. Konstribusi
teori kurikulum terhadap peningkatan mutu pendidikan
e. Keseimbangan
antara teori dan praktik.
Teori dan praktik merupakan dua kutub yang berbeda,
tetapi ada dalam suatu kesatuan. Teori tanpa praktik adalah pincang, sedangkan
teori tanpa prakti adalah buta. Teori diharapkan dapat memperbaiki praktik, dan
hasil praktik dapat mempebaiki teori. Dengan demikian, antara teori dan praktik
harus saling
memperbaiki.
Referensi :
Arifin,Zainal.
Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum.
Bandung : Remaja Rosdakarya. 2011.
Malik, MD.
Teori-teori Pengembangan Kurikulum. http://muhamadiqbalmalik.blogspot.com/2012/05/teori-teori-pengembangan-kurikulum.html
(diakses pada 13 November 2014, pukul 22:48)
Jamaludin,
Dery. Teori dan Kurikulum. http://deryjamaluddin.page.tl/Teori-dan-Kurikulum.htm
(diakses pada 13 November 2014, pukul 22:52)
Suriman. Teori Kurikulum. http://makalahpendidikan-sudirman.blogspot.com/2012/05/teori-kurikulum.html
(diakses pada 13 November 2014, pukul 22:53)
Komentar
Posting Komentar